oleh

KAPITALISME ATAUKAH KOMUNISME?

KAPITALISME ATAUKAH KOMUNISME?

Oleh: M. Fachrul Hudallah (Mahasiswa UNWAHAS Semarang/Kader PERMAHI)

Menurut pandangan penulis, di dalam teori barat terdapat dua ideologi yang sangat berbenturan ibarat kutub utara dan selatan, di antara keduanya tidak akan pernah menyatu. Sebelum masuk ke dalam pembahasan, pembaca harus mengetahui dulu garis besar Komunisme dan Kapitalisme. Kapitalisme merupakan sebuah ideologi yang mempunyai ciri khas berbentuk masyarakat kelas. Menurut Marx, masyarakat kelas di dalam faham Kapitalisme bernama borjuis (pemilik modal atau majikan) dan proletar (tidak mempunyai modal/buruh). Sedangkan Komunisme merupakan suatu ideologi untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama dan menolak adanya masyarakat kelas agar terdapat penyamarataan dalam segi sosial, ekonomi, ataupun yang lainnya.

Di dalam buku social engineeringkarya kang Jalal telah menyebutkan bahwa tidak akan mengelak adanya kapitalisme. Analoginya seperti ini, ketika semua orang menjadi bos dan mempunyai modal, tidak akan ada yang mau membersihkan selokan, menyapu alun-alun, mengangkut sampah. Jadi, memang keduanya harus terdapat mutualisme antara pihak satu dan dua. Di buku kang Jalal juga disebutkan bahwa yang akan menolak adanya perubahan sosial adalah kaum dari borjuisme karena mereka tidak akan rela usahanya yang selama ini di perjuangkan di ubah begitu saja,biasanya yang mempunyai fikiran untuk memperjuangan kesejahteraan adalah kaum proletariat.

Di dalam faham Kapitalisme ini juga mempunyai kelemahan, antara lain adalah terciptanya kejumudan orang yang kuat akan semakin kuat begitupun sebaliknya orang yang lemah akan semakin lemah. Melihat Kapitalisme ini pembaca dapat menganalogikan bahwadi dalam kehidupan binatang mempunyai hukum rimba, dapat kiranya memikirkan bahwa hewan sekuat singa tetaplah berkuasa karena keberaniannya, selain itu singa menurut pelajaran biologi merupakan hewan karnivora(pemakan daging). Berbeda dengan kancil, semut, ataupun hewan lemah yang lainnya karena mereka akan menjadi bulan bulanan singa tersebut dalam mencari penghidupan. Begitupun dapat kita terapkan pada faham kapitalisme yang mempunyai kelas berbeda.

Menjadi kaum borjuis yang baik adalah orang yang selalu mengingat bahwa hartanya itu di dapat tidak dari tanganya sendiri secara pribadi, ada pihak yang bercampur tangan untuk memajukan usaha nya. Oleh sebab itu, orang muslim yang masih menjaga iman perlu kiranya mengingat orang yang ada di bawah dengan cara memberikan sesuatu untuk meringankan beban mereka dan harus mensyukuri segala kenikmatan yang diberikanNYA sehingga tidak akan melupakan saudara muslim di dunia karena masih banyak membutuhkan pertolongan. Menurut Al-Qur’an surat At-taubah ayat 60 menyatakan bahwa “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk 1)orang-orang fakir, 2)orang-orang miskin, 3)Amil zakat, 4)para muallaf yang di bujuk hatinya, 5)untuk(memerdekakan) budak, 6)orang-orang yang terlilit hutang, 7)untuk jalan Allah , dan 8)untuk mereka yang sedang perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang di wajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“.

Ketika mendengar tentang Komunis pasti menghindari hanya karena trauma pada masa orla dan orba yang mempunyai kesan cenderung kekerasan. Padahal Komunis bukan berbicara tentang kekerasan, komunis itu mempunyai tujuan bersama untuk kepentingan bersama agar terjadi persamaan hak.  Ketika melihat tidak adanya komunisme di negara ini, kita mungkin salah menjustifikasi. Justru Komunisme ini ada, contohnya adalah pemberian RASKIN (Beras Miskin) di desa-desa itu di berikan secara merata kepada kaum proletariat yang justru dapat memberikan kesejahteraan dan memperingan biaya kehidupan sehari-hari karena bantuan dari pemerintah. Selain RASKIN juga terdapat seperti kartu Jamkesmas yang mempermudahkan kaum kelas bawah dalam berobat dan biaya lebih ringan dari pada orang yang tidak mempunyainya.

Yang terjadi sekarang adalah penyalahgunaan penyebaran dana-dana atau bantuan dari pemerintah yang justru di manfaatkan oleh pihak pihak berkepentingan. Misalnya adalah bidikmisi yang merupakan suatu bantuan dari pemerintah untuk lulusan SMA/SMK sederajat yang secara ekonomi belum mampu, tapi nyatanya banyak kampus swasta tidak memperhatikan secara detail terkait pemberian bantuan itu. Yang hanya di ketahui adalah bahwa orang itu telah membuat kartu bidikmisi, kemudian adanya tahap acc dari pihak kampus, sehingga penyamarataan antara orang kaya dan orang miskin di dalam kampus itu belum terlaksana, sehingga bantuan itu lebih dominan pada pemberian bantuan pada mahasiswa kaya dengan lagak pura pura miskin ibarat mempunyai julukan bermuka dua.

Jika berbicara tentang dua faham itu, Kapitalisme dan Komunisme mempunyai titik rugi dan titik untung karena memang di dunia ini bersifat antonim, tidak ada yang sepenuhnya lemah dan tidak ada yang sepenuhnya unggul. Menurut pandangan penulis Marxisme itu memang cocok sebagai ideologi seseorang tetapi masih belum cocok dijadikan sistem di negara kita karena memang di Indonesia lebih mendominasi pada Kapitalisme.

Di Indonesia condong menganut sistem Kapitalisme , karena memang negara ini menolak adanya Komunisme, penulis juga melihat banyak penyitaan dari aparat terkait buku yang berbau Marxisme karena pemerintah tidak mau rakyat terdoktrin ideologi itu yang kesekian kalinya karena dulu pernah terdapat PKI(Partai Komunis Indonesia). Di dalam Undang-Undang pasal 107 A menyatakan bahwa “Barangsiapa yang melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk, dipidana penjara paling lama 12 tahun”.

Sebenarnya masyarakat kelas itu sudah ada semenjak Nabi Muhammad S.A.W. Di dalam buku Islam Dan Pembebasan karya Aghar Ali Engineer telah menyebutkan bahwa pada zaman dulu di arab pada waktu Rasulullah hidup terdapat kelas pedagang dan orang yang tertindas, di dalam buku itu di sebutkan namanya adalah Mustakbirin dan Mustadh’afin. Terkadang sebuah pemikiran condong ke barat karena hanya ingin terlihat modern sehingga lebih memahami faham barat dari pada faham timur ataupun sebaliknya. Justru yang bagus adalah mempelajari semuanya dengan sistem moderat dan mencari tau dari tesa, antitesa, sampai sintesa sehingga terdapat pergolakan pemikiran yang menjadikan sebuah hipotesa.

Selain itu jika mau menggali di Indonesia itu sebenarnya sudah ada faham kapitalisme,marxisme, dan lainya. Masyarakat Indonesia yang tidak percaya diri lebih condong meneladani faham lain daripada mempelajari faham dari budaya nya sendiri. Jika kita melihat dalam segi pembangunan, Indonesia lebih sentral ke jawa, padahal yang penulis harapkan adalah kesamarataan di seluruh Indonesia jika mengadakan pembangunan. Selain itu, masyarakat akan lebih sejahtera karena memang indonesia yang katanya luas itu dapat memberikan timbal balik kepada masyarakat. Ketika penulis belajar mengenai hukum adat, masih banyak yang dapat di gali dari budaya masyarakat Indonesia yang sangat pluralis, andai kata masyarakat mau membuat faham seperti Javaisme, Sumateraisme, Kalimantanisme, atau yang lain dengan menunjukkan segala keunggulannya untuk menyejahterakan kehidupan bersama, bukan hanya individual tetapi sosial pasti akan di kenal sebagai negara yang maju dengan paradigma berfikirnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *