oleh

Kisah Ibu dan Kedua Anak Pemulung di Mamuju.

Belajangtv.com – Rabu, 17 Juli 2019. Pukul 09.00 Wita di waktu jam sekolah, jurnalis Belajangtv.com melintas di Jl. Dr. Sam Ratulangi melihat dua orang anak dari sisi seberang jalan, kedua anak itu wajahnya tampak lesu sambil memikul karung yang berisikan plastic dan dos.

Kami mencoba mendekati dan mengajak bercerita di sudut lampu merah Jl. Dr. Sam Ratulangi yang tak jauh dari Kodim 1418 Mamuju.

Ternyata kedua anak itu bersaudara yang satu namanya Ayu Andira (11) dan adeknya Jupita (9) kedua anak ini sudah putus sekolah sejak beberapa tahun lalu.

dari sisi kanan, ayu andira dan jupita (Foto/Belajangtv.com)

Dek kenapa tidak sekolah, sih adek Jupita menjawab sambil tersipu malu “tidak ada ku pake beli buku kak”. tak lama berbincang bapak kedua anak itu melintas di depan kami dengan mengedarai becak.

Sayapun mengajak kedua anak itu untuk mendatangi kedua orang tuannya, dan ternyata kedua anak dan orang tuannya tinggal di kantor eks KPU Mamuju yang sebelumnya dilalap si jago merah dekat lapangan merdeka mamuju.

Disini ibunya banyak bercerita tentang kisah hidupnya, kenalkan nama ibu dari kedua anak pemulung itu bernama Wati (35) dan ternyata bapak yang mengayuh becak tadi adalah bapak tirinya.

Foto ibu ayu dan jupita

Wati bercerita, kedua anaknya ayu andira dan jupita anak dari suami pertamanya yang kini sudah berpisah karena suaminya memilih menikah lagi.

“Waktu itu saya menikah masih usia anak, bahkan saya belum haid, saya dengan bapaknya kabur dari rumah waktu itu, saya kabur ke polman di sana kami dinikahkan oleh salah satu imam mesjid” ujarnya

Wati lebih jauh bercerita, setelah saya berpisah dengan bapak mereka saya sudah 4 kali menikah, semua menikah di bawah tangan, suami terakhir ini saya kembali memiliki satu anak.

Ini penyebab kedua anak saya putus sekolah, karena saya tidak menetap di satu tempat, “bapak bisa lihat tempat tinggal saya sekarang ini, saya tidur ditempat kantor bekas yang hanya beratapkan baliho dan seng bekas” masih kata wati

tempat tinggal mereka/ kantor eks KPU Kab Mamuju

Lebih lanjut, wati bercerita sambil  meneteskan air mata mengatakan kedua anak saya ayu dan jupita mungkin tidak akan lagi mengenal dunia pendidikan, kami tidak mampu membiayai, pendidikan ini mahal, hidup kami sehari – hari hanya sebagai pemulung. Apa lagi bapak kandungnya tidak memperhatikan anaknya.

Biasa mereka bertemu di jalan, paling bapaknya mereka kasih uang 2000 rupiah itupun sekali setahun kalo ada.

Selama ini wati tidak memiliki administrasi kependudukan, mulai buku nikah,KTP, KK dan akta kelahiran.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *